Setelah ujian PP1 (Proses Pemisahan 1) atau akrabnya disebut OPD (Operasi Pemisahan Difusional) dan pembicaraan akhir modul ALF (Aliran Fluida) dengan pak Mubiar, saya membaca-baca KOMPAS yang ada di meja himpunan, dan nemu tulisan ini. Cukup menarik untuk dishare, khususnya kepada kawan2 Teknik Kimia yang mengambil kuliah Teknologi Pangan. Langsung saya salin teksnya. Check it out! ;)

***

JAKARTA, KOMPAS – Industri pengolahan limbah udang menjadi bahan baku pengawet ikan dan kosmetik mulai dikembangkan. Limbah itu berupa kepala dan kulit udang yang diolah menjadi chitin dan chitosan.

Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementrian Kelautan dan Perikanan Saut Hutagalung, di Jakarta, Senin (10/12), mengemukakan, udang diekspor dalam bentuk daging, sedangkan kulitnya menjadi limbah hasil perikanan yang kurang memiliki nilai ekonomis.

Namun, kini berkembang industri pengolahan limbah berupa kulit dan kepala udang untuk menjadi produk chitin dan chitosan. Chitosan merupakan salah satu bahan pengawet ikan, selain garam. Pemanfaatan chitosan dapat menekan penggunaan formalin yang berbahaya.

“Pemafaatan kulit udang menjadi chitosan tidak saja memberikan nilai tambah pada industri pengolahan, tetapi juga menanggulangi masalah pencemaran lingkungan,” ujar Saut.

Saat ini, pabrik chitosan terpusat di Banten dan Jawa Tengah. Negara yang potensial menyerap produk turunan itu yakni Jepang, Korea, dan China.

Belum Berdaya Saing

Pemilik PT. Boble Biotech Indonesia, Lim, mengungkapkan, permintaan produk chitin dan chitosan di pasar internasional mencapai 100 ton per tahun. Pabrik di Indonesia baru mampu mengekspor chitosan 2-3 ton per bulan dengan nilai total ekspor lebih dari Rp 200 juta dengan harga jual masih kurang bersaing, 20 dollar AS per kilogram (kg).

“Tingginya harga produk olahan tersebut membuat kita sulit bersaing dengan negara pesaing utama, seperti Thailand, Bangladesh, dan Kamboja,” ujarnya.

Harga jual produk yang tinggi dipicu bahan baku yang mahal. Dicontohkan, harga kulit udang Rp 6000-Rp 7000 per kg, sedangkan negara lain menjual bahan baku tersebut di harga Rp 4000-Rp 5000 per kg. (LKT)

***

Nah, tugas kita, nih, sebagai manusia2 Teknik Kimia untuk mengembangkannya. Lumayan tuh, komoditas ekspor yang cukup potensial. Lihat saja, konsumen kita Jepang, Korea, dan China. Kita sudah banyak membanggakan produk mereka (termasuk boyband), tunggu gilirannya mereka yang membanggakan produk kita. haha. 

Semoga tulisan yang sedikit ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat! (hbb)

sumber :

  • KOMPAS. Edisi 11 Desember 2012.