ShGibril_w_Mawlana_Sh_Hisham-e1287074733506-300x297jShaykh Gibril Fouad Haddad (baca: Syekh Jibril Fuad Haddad) adalah seorang akademisi dan ulama berkebangsaan Amerika berdarah Libanon yang terkenal sebagai salah satu pengusung suara Islam tradisional paling jernih di Barat. Ia dihormati pula sebagai penerjemah dan penafsir berbagai teks sakral dalam Islam.

Ia lahir tahun 1960 dalam sebuah keluarga Libanon kelas menengah beragama Katolik di Beirut, Libanon, dan bersekolah di Inggris. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat tahun 1991 sewaktu masih menjadi mahasiswa pasca sarjana di Universitas Columbia di New York. Dari universitas ini pula ia memperoleh gelar PhD di bidang Satra Perancis.

Pada tahun tersebut ia juga bertemu dengan Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani dari Siprus yang menjadi gurunya dalam mempelajari dan menjalani tarekat Naqsyabandi. Ia mengajar di Universitas Negeri New York di Stony Brook selama 2 tahun dan tahun 1997 pindah ke Damaskus untuk belajar kajian disiplin ilmu-ilmu keislaman selama 9 tahun.

Ia memperoleh kesempatan belajar dengan guru-guru terhormat, di antaranya Syekh Dr. Nur al-Din `Itr, Syekh Adib Kallas, Syekh Wahbi al-Ghawji, Syekh Muhammad al-Ya`qubi, Syekh Adnan al-Majd, Syekh Mu`tazz al-Subayni, Syekh Dr. Samir al-Nass, Syekh Dr. Wahba al-Zuhayli, Syekh `Abd al-Hadi Kharsa, dan Syekh Muhammad Muti` al-Hafiz. Ia juga memegang ijazah dari Syekh Dr. Muhammad ibn `Alawi al-Maliki dan Syekh Husayn `Usayran, salah satu murid setia dari Qadi Syekh Yusuf al-Nabhani yang salih, dan juga memiliki ijazah dari lebih dari 100 orang Syekh dari Aljazair hingga Yaman – semoga Allah mengaruniakan pahala yang berlipat ganda pada mereka semua dan terus memmberi kebaikan kepada kita melalui mereka.

Lebih dari 30 tulisannya yang membahas mengenai sejarah, hadits dan pokok-pokok ajaran Islam telah diterbitkan, antara lain:

§       “Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah” karya Imam al-Bayhaqi (“Allah’s Names dan Attributes” by Imam al-Bayhaqi),

§       “Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW” karya Syekh Muhammad ibn `Alawi al-Maliki (“The Prophet’s Night Journey dan Heavenly Ascent” by Shaykh Muhammad ibn `Alawi al-Maliki),

§       “Albani dan Kawan-Kawan: Panduan Ringkas Mengenai Gerakan Salafi” (“Albani dan His Friends: A Concise Guide to the Salafi Movement”),

§       “Maulid: Merayakan Kelahiran Nabi Suci Muhammad SAW”, ditulis sebagai sanggahan atas fatwa Mufti Taqi Usmani yang melarang perayaan Maulid Nabi (“Mawlid: Celebrating the Birth of the Holy Prophet, upon him blessings dan peace, written in refutation of Mufti Taqi Usmani’s fatwa against its celebration),

§       “Para Rasul di Alam Barzakh” karya Syekh Ibn `Alawi (Shaykh Ibn `Alawi’s “The Prophets in Barzakh”),

§       “Yesus Kristus dan Ibundanya yang Diberkati” karya al-Habib `Ali al-Jifri (“Jesus Christ dan His Blessed Mother” by al-Habib `Ali al-Jifri),

§       “Catatan Sunnah Jilid 1: Sejarah dan Prinsip Hadits” (“Sunna Notes Volume 1: Hadith History dan Principles“),

§       “Catatan Sunnah Jilid 2: Inovasi Agung dalam Qur’an dan Hadits” (“Sunna Notes Volume 2: The Excellent Innovation in the Qur’an dan Hadith“,

§       “Empat Imam dan Mahzab Mereka” (“The Four Imams dan Their Schools“),

§       “Mengingat Allah” karya al-Suyuti (al-Suyuti’s “Remembrance of God“),

§       Terjemahan “Sanggahan terhadap Ibn Taymiyya mengenai Penyifatan Arah pada Allah Yang Maha Tinggi ” karya Qadi Ibn Jahbal al-Dimashqi (“Refutation of Ibn Taymiyya on Attributing a Direction to Allah Most High“),

§       Terjemahan “Kamus Utama Pemalsuan Hadits” karya Mulla Ali Al-Qari (Mulla Ali Al-Qari’s “Major Dictionary of Hadith Forgeries“).

Syekh Jibril saat ini berdomisili di Brunei Darussalam

 

 

“MENGAPA SAYA MEMELUK ISLAM”

oleh Fouad Haddad (Libanon)

Ditulis tanggal 19 Ramadhan 1417 (28 Januari 1997)

http://www.sunnah.org/history/Scholars/fouad1.htm

Saya lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Libanon kelas menengah biasa penganut Katolik di Beirut, Libanon. Dua tahun setelah pecah perang saya terpaksa mengungsi, dan menyelesaikan sekolah menengah di Inggris. Kemudian saya melanjutkan kuliah di Columbia College di New York. Setelah meraih gelas sarjana saya kembali ke Libanon dan mengajar di sekolah lama saya. Dua tahun kemudian saya kembali meninggalkan Libanon, kali ini karena kemauan saya sendiri, meskipun perpisahan kali ini jauh lebih menyayat hati ketimbang yang kali pertama. Saya tinggalkan negra saya yang tercabik-cabik perang dan menuju negeri baru yang menawarkan banyak kesempatan. Saat itu saya amat patah semangat, dan secara spiritual mengalami kebuntuan total. Dengan sokongan paman saya, saya kembali ke bangku kuliah mengambil program pasca sarjana di Universitas Columbia. Berikut ini kisah singkat bagaimana saya memeluk Islam saat berkuliah di sana.

Saat saya di Libanon saya menyadari bahwa saya seorang penganut Kristen KTP yang tidak benar-benar menjalani hidup sesuai dengan ajaran agama yang saya ketahui. Saat itu saya memutuskan bahwa jika ada kesempatan maka saya akan berusaha sebaik mungkin untuk hidup sesuai dengan pemahaman saya mengenai standar ajaran Kristen selama satu tahun, apapun yang terjadi. Tantangan ini saya penuhi saat berkuliah di Columbia. Mahasiswa pascasarjana hidupnya amat beruntung karena memiliki banyak kesempatan untuk melakukan penjelajahan spiritual dan intelektual. Dalam proses eksplorasi ini, saya banyak membaca dan dan merenung, dan saya berdoa dengan sungguh-sungguh memohon petunjuk yang jelas. Waktu saya terbagi antara gereja dan perpustakaan, dan saya perlahan-lahan menyingkirkan segala halangan yang menghambat saya dalam ujicoba ini, terutama ikatan atau kegiatan sosial yang dapat mencuri waktu dan konsentrasi saya. Saya keluar kampus hanya untuk mengunjungi ibu saya sekali-sekala.

Beberapa pertemuan dan pengalaman tertentu telah membimbing saya ke jalan di mana saya mulai mencari tahu mengenai Islam. Selama satu tahun masa kuliah dengan beasiswa di Paris, saya membeli satu set lengkap kaset bacaan Al-Qur’an. Saat kembali ke New York saya mendengarkan bacaan tersebut untuk pertama kalinya, sambil saya membaca terjemahannya, dan saya tenggelam dalam keindahannya yang luar biasa. Saya terutama memperhatikan ayat-ayat yang menyangkut kaum Nasrani. Saya saat itu merasa dekat dan terpanggil dengan ayat-ayat itu karena tidak diragukan lagi Tuhan yang saya seru dalam doa-doa saya adalah sama dengan Tuhan yang berbicara dalam Qur’an ini, meskipun saya resah membaca sebagian “ayat-ayat ancaman”. Setelah beberapa waktu saya menyadari bahwa inilah jalan saya, karena saya telah menjadi yakin bahwa Qur’an memang berasal dari Tuhan.

Saya juga membaca banyak buku pada waktu itu. Dua di antaranya adalah karya Martin Lings yang berjudul “Kehidupan Muhammad” (Life of Muhammad) dan karya Fariduddin Attar “Kitab Rahasia-Rahasia” (Book of Secrets atau Persian “Asrar-Nama dalam terjemahan Perancisnya). Saya juga menganggap buku Lings mengenai kehidupan Syekh Ahmad `Alawi yang berjudul “Seorang Ulama Sufi di Abad ke-Dua Puluh” (A Sufi Saint of the Twentieth Century) sangat menginspirasi. Saya tidak selesai membaca buku tersebut sebelum saya menjadi seorang Muslim; namun saya melompat-lompat membacanya. Bagaimanapun, kini nampaknya, jika dibandingkan, pengalaman-pengalaman saya sebelumnya dalam hal agama seolah seperti belajar mengenal huruf, bahkan termasuk pembacaan Injil (Bible) yang saya lakukan setiap subuh dan larut malam dan pembelajaran terdahulu mengenai bahasa Latin asli dari Santo Agustinus, yang pernah menjadi salah satu panutan spiritual dalam hidup saya.

Saya kemudian mulai merasa rindu yang teramat sangat untuk berdoa secara fisik sebagaimana yang dilakukan dalam Islam, yang bagi saya menjanjikan pemenuhan spiritual yang amat besar, meskipun saya telah benar-benar tergantung pada beberapa kebiasaan spiritual – terutama komuni dan doa kebaktian — dan tidak bisa jika tidak melakukannya. Namun saya juga memperoleh tanda-tanda yang sangat jelas yang mengarahkan saya menuju tahap selanjutnya. Salah satunya yakni yang saya anggap hampir seperti tamparan di wajah saya saking terangnya: saat saya menceritakan pada pastur saya ketertarikan saya terhadap Islam ia menanggapi sebagaimana mestinya, namun menutup nasihatnya dengan kata-kata: allahu akbar. “Allahu akbar“? Dan ini dikatakan oleh seorang pastur Amerika berdarah Itali?!

Saya lantas pergi ke masjid-masjid di New York namun para imam di sana justru ingin berbincang mengenai Injil atau mengenai konflik Timur Tengah, yang saya pikir mungkin karena ingin menghormati saya. Saya sadar bahwa mereka bisa jadi tidak memahami apa yang mendorong saya mendatangi mereka namun saya tidak menemukan jalan untuk mengumpulkan keberanian dan menyatakan maksud saya. Setiap kali saya akan pulang ke rumah dan berkata pada diri sendiri: Satu hari lagi telah berlalu, dan kamu masih belum menjadi seorang Muslim. Akhirnya saya pergi ke kelompok mahasiswa Muslim di Columbia dan mengumumkan keinginan saya, dan menyatakan dua kalimat syahadat: kalimat berbahasa Arab yang artinya “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah” – nama dalam bahasa Arab untuk menyebut Tuhan — “dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.” Mereka mengajar saya berwudhu dan sholat, dan saya memperoleh teman baik di antara mereka. Hari-hari itu tercatat dalam hidup saya dengan huruf-huruf cahaya.

Seorang sahabat saya juga memainkan peran penting dalam perubahan ini. Teman baik saya yang orang Amerika beragama Kristen taat ini telah lebih dahulu masuk Islam bertahun-tahun sebelum saya. Saat itu dalam kesombongan saya yang bodoh, saya merasa bahwa merupakan kesalahan bila seorang Amerika masuk ke dalam agama orang Arab sedangkan saya, seorang Arab, berdiri seperti keledai keras kepala yang sama sekali tidak mau tahu mengenainya. Peristiwa itu memiliki akibat mendalam bagi saya dari dua sisi: dari aspek budaya dan aspek spiritual, karena kawan saya ini –sejak dulu sampai sekarang – adalah seorang yang jujur dan berhati lurus dan masuknya ia ke dalam Islam amat sangat berarti bagi saya.

Saya juga akhirnya menyadari bahwa pendidikan dasar saya di Libanon telah membuat saya sama sekali tidak tahu menahu mengenai Islam, meskipun saya tinggal di lingkungan pemukiman campuran yang warganya memeluk agama yang berbeda-beda di tengah-tengah kota Beirut. Saya bersekolah di sekolah Yesuit tempat ayah dan kakek saya dahulu bersekolah. Peristiwa berikut ini adalah bukti bahwa memang tidak ada jalan lain bagi saya kecuali mengikuti jalan hidayah yang telah Allah karuniakan pada saya saat Ia memutuskan untuk memberinya. Tahun itu, pada saat saya berumur 12 tahun, seorang guru pendidikan agama yang taat dan aneh memberi kami sebuah tugas untuk mempelajari Al-Fatihah – surah pertama dalam Qur’an – dan menghafalnya. Saya pulang dan melakukannya, dan hafalan itu berbekas sepanjang hidup saya. Setelah para orangtua melayangkan protes, guru tersebut dipecat — “kami tidak menyekolahkan anak-anak kami di sekolah Kristen supaya mereka belajar mengenai agama orang-orang Muslim” – namun bibit telah disemai, tepat di jantung wilayah Kristen yang kokoh, di dalam sekolahnya yang bergengsi. Dan kini saya berada di Amerika Serikat, mengetuk pintu agama Sang Rasul, sholawat dan salam kepada Beliau!

Beberapa hari setelah saya bersyahadat saya bertemu dengan guru dan cahaya penerang jalan saya, Syekh Hisham Kabbani dari Tripoli, dan setelahnya saya bertemu dengan guru Beliau, Syekh Nazim al-Haqqani dari Siprus. Semoga Allah merahmati dan memberi mereka usia panjang. Melalui Beliau berdua, setelah beberapa tahun, ibu saya juga bersyahadat dan saya berharap dan berdoa setiap hari agar kedua saudara lelaki dan ayah tiri saya juga segera menyusul masuk ke dalam kemurahhatian Allah yang tak terhingga. Rahmat dan sholawat Allah semoga tercurah kepada Baginda Rasululloh, keluarga Beliau, para sahabat Beliau, dan semua Rasul dan Nabi Allah lainnya.