thmb_956b6c4a0895bdde1013ef4862a68523Pada zaman dahulu, di Negeri Mesir, pernah hidup seorang raja, bernama Fir`aun. Ia menganggap dirinya Tuhan, dan ketika diperingati oleh Nabi Musa as, seorang nabi yang diutus Allah untuk mengembalikannya ke jalan yang benar, kesyirikannya malah menjadi-jadi, hingga ia ditenggelamkan di lautan bersama pasukannya. Namun, Allah SWT menghendaki agar Fir`aun menjadi contoh untuk manusia sesudahnya tentang seburuk-buruk manusia sebagai pelajaran agar tidak terjerumus kepada kesyirikan dengan cara mengabadikan mayat Fir`aun tersebut. Subhanallah atas apa yang Engkau lakukan ya Allah.

Kejadian diatas tentu merupakan suatu kekhasan atau kejadian yang tidak sesuai dengan proses alami yang biasa terjadi.  Manusia atau hewan yang mati pasti jasadnya akan segera dimakan oleh berbagai mikroba tanah. Pembusukan pada tubuh zat yang mati tersebut karena adanya aktifitas kerja bakteri yang menghasilkan enzim yang dapat merusak dan menghancurkan tubuh. Bakteri yang biasa ada dalam tanah yaitu Clostridium botulinum, Clostridium pasteurianum, Klebsiella pneumoniae, Enterobacter aerogenes, dan lain-lain. Bakteri-bakteri tersebut akan memecah protein yang ada dalam tubuh mayat.

Proses pemecahan protein oleh mikroorganisme sering disebut dengan putrefaksi, dimana terjadi dekomposisi asam amino. Enzim-enzim intraseluler akan memecah protein di dalam sel, menghasilkan senyawa-senyawa yang lebih sederhana yang menimbulkan bau busuk. Clostridium khususnya, akan memecah protein secara anaerobic menghasilkan senyawa-senyawa sulfur berbau busuk seperti merkaptan dan hydrogen sulfide, disamping terbentuk pula indol, hydrogen, ammonia, fenol, dan karbondioksida (Fardiaz, 1992).

Lalu kenapa ada jasad yang awet? Mengapa mumi bisa menjadi mumi?? Berarti bakteri-bakteri yang ada dalam tanah takut terhadap sesuatu yang ada dalam mumi. Apakah itu???

Sebuah tim peneliti Jerman menyatakan telah mengungkap rahasia pengawetan mumi Mesir kuno. Masyarakat Mesir kuno saat itu menggunakan sari pohon pinus salju sebagai bahan pengawet. Melalui percobaan kimiawi pinus salju pada potongan daging babi segar, peneliti mendapati bahwa zat kimia ini memiliki efek antimikroba yang sangat kuat, dan tidak mengakibatkan efek negatif terhadap susunan tubuh.

Sebuah lembaga riset pertanian Amerika menggunakan beberapa ekor ayam untuk. sebagai mayat. Ayam-ayam tersebut dimasukan ke dalam dua ruangan yang terkontaminasi bakteri pembusuk. Ruangan pertama diberi ion negatif sedangkan ruangan kedua tidak. Setelah menunggu beberapa waktu, riset pun menunjukkan hasilnya. Kondisi ayam di ruang yang diberi ion negatif tetap sehat. Sementara itu kondisi ayam di ruangan kedua telah mati.
Setelah diteliti lebih mendalam penyebab tidak matinya ayam di ruangan pertama ialah ion negatif. Ion negatif merupakan ion yang tidak stabil atau ion yang elektron bebasnya terlepas. Akibatnya, ion tersebut selalu mencari pasangan agar tetap stabil. Prinsip kestabilan ion inilah yang mungkin dimanfaatkan oleh masyarakat Mesir untuk mengawetkan mumi. Ruangan tempat mumi bersemayam (piramida dan sarophagus) ternyata penuh dengan ion negatif. Ion negatif yang mengisi peti mumi berikatan dengan bakteri yang berada di dalam ruangan maupun di dalam peti. Ikatan yang terbentuk membunuh sekaligus menghentikan aktivitas bakteri.

Sumber :

http://www.angahjudin.com/2012/03/info-tahap-tahap-untuk-melakukan.html?m=0

http://quran.al-shia.org/id/lib/006/02.htm

http://10108602.blog.unikom.ac.id/cerita-jasad-firaun.tq

http://erabaru.net/sejarah/56-sejarah/4346-membuka-rahasia-mumi

http://sejarah.kompasiana.com/2011/06/10/pyramid-mumi-jasad-jasad-suci-yang-awet-alami/

http://www.indoforum.org/t83582/